25.1.11

Hikmah Ibnu Athaillah

لَماَّ عَلِمَ الْحَقُّ مِنْكَ وُجُوْدَ الْمَلَلِ لَوَّنَ لَكَ الطاَّعاَتِ ، وَعَلِمَ ماَ فِيْكَ مِنْ وُجُوْدِ الشَّرَهِ فَحَجَرَهاَ عَلَيْكَ فِي بَعْضِ اْلأَوْقاَتِ ، لِيَكُوْنَ هَمُّكَ إِقاَمَةَ الصَّلاَةِ لاَ وُجُوْدَ الصَّلاَةِ ، فَماَ كُلُّ مُصَلٍّ مُقِيْمٌ

“Karena Allah mengetahui bahwa engkau mudah jemu, maka Dia membuat bermacam-macam cara taat untukmu. Dan karena Allah mengetahui bahwa engkau pun rakus, maka Dia membatasinya pada waktu-waktu tertentu, agar perhatianmu tertuju pada kesempurnaan shalat, bukan pada adanya shalat, karena tidak semua orang yang shalat dapat menyempurnakannya.”

Allah kenal betul dengan makhluk yang Dia ciptakan. Dia sangat mengetahui bahwa manusia biasanya mudah rasai kebosanan. Emosinya kadangkala naik dan turun dengan tiba2, Contohnya, orang Arab. Mereka boleh menumpahkan darah hanya karena perkara yang remeh, seperti dalam kisah perang Basyusy yang terkenal. Begitulah watak orang Arab kalau tidak dikekang dengan tali agama. Umar bin Khattab ra. berkata, “Aku dulu adalah orang yang kasar dan berhati keras. Kalau tidak ada Islam, tidak ada Umar.” Bangsa Arab 15 abad yang lalu kalau boleh dihitung ada beberapa peringkat. Beberapa tahun kemudian setelah Nabi Saw. diutus bangsa Arab menjadi nombor satu. Karena Allah memuliakannya dengan Islam.

Allah Azza wa Jalla mengetahui adanya sifat malas pada diri hamba. Karena itu Dia memberikan aneka warna ketaatan; ada shalat, ada zakat, ada haji, ada puasa, ada shalat malam, ada menjenguk orang sakit, ada mengiringi janazah, ada membahagiakan orang Muslim, ada menghadiri walimah, ada aqiqah, dan lain sebagainya. Andaikata ketaatan hanya berwujud shalat, manusia pasti bosan melaksanakan shalat. Andai semuanya adalah zakat, manusia juga pasti akan bosan. Jikalau dalam satu tahun hanya puasa, manusia pasti bosan juga. Akan tetapi Allah menjadikan puasa hanya satu bulan hingga orang-orang bisa bersiap-siap sebelumnya dan setelahnya orang-orang dapat memetik buahnya. Matahari sendiri terbenam saat Maghrib, dan pada keesokan harinya terbit kembali. Andaikata ia terus bersinar terang di langit selama 24 jam, manusia pasti akan sengsara. Air apabila diam di satu tempat dan tidak mengalir lama kelamaan pasti bau dan tidak berguna. Gerakan kehidupan merupakan anugerah Tuhan untuk kita, juga aneka ragam ketaatan. Untuk apa? Allah memberikan kita aneka warna ketaatan agar kita tidak bosan dan bisa berpikir.

“Dan karena Allah mengetahui bahwa engkau pun rakus, maka Dia membatasinya pada waktu-waktu tertentu.” Allah Swt. melarang kita melakukan shalat setelah Subuh hingga matahari meninggi sekitar 2 tombak. Ini adalah waktu di mana para penyembah matahari melakukan ritual. Allah mencegah kita melakukan shalat dari setelah Ashar hingga tiba waktu Maghrib. Ini juga termasuk kepemurahan Allah terhadap kita. Allah Swt. juga melarang kita berpuasa pada Hari Raya. Karena Dia mengetahui kerakusan kita, Dia melarang kita melakukan ibadah pada waktu-waktu tertentu, supaya kita boleh memperbaharui semangat dan niat kita. Tujuannya adalah supaya ada kesempurnaan shalat, bukan hanya sekedar adanya shalat. Pokoknya terdapat pada intisari ibadah, pada rahsia ibadah, pada hasil ibadah, atau pada apa yang diperoleh dari ibadah tersebut.

Tujuan shalat adalah untuk mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Orang yang shalatnya mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, shalatnya tidak mengandung kebaikan. Jadi, tidak setiap orang yang mengerjakan shalat itu menunaikan shalat dengan benar. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Aku menerima shalat orang yang tunduk pada keagungan-Ku, tidak mencemarkan kehormatan makhluk-Ku, tidak terus menerus bermaksiat kepada-Ku, mengasihi janda, orang miskin, dan anak yatim. Orang ini akan Aku lindungi dengan pertolongan-Ku, dan Aku akan menyuruh malaikat-Ku untuk menjaganya. Dia di antara para hamba-Ku bagaikan Firdaus di surga.” Jadi, tidak semua orang yang mengerjakan shalat itu shalatnya berfaedah. Orang yang tidak tunduk dan takabur shalatnya tidak diterima. Orang yang bersengketa dengan saudaranya shalatnya tidak diterima. Orang yang mempersulit kaum muslimin shalatnya tidak diterima. Orang yang tidak mengasihi janda, orang miskin, dan anak yatim shalatnya tidak diterima. Bagaimana shalatnya boleh diterima sedangkan dia menyakiti hamba Allah dan melampaui batas ketentuan Allah? Allah membuat beraneka ragam ibadah ini karena belas kasih-Nya terhadap orang mukmin. Sebab yang dituju adalah kesempurnaan shalat, bukan adanya shalat. Tidak semua orang yang mengerjakan shalat itu dapat menyempurnakannya. Apabila Allah menginginkan kebaikan seorang hamba, setelah Dia membuat aneka ragam ibadah, Dia memasukkan rasa cinta terhadap ibadah ini pada hati hamba. Hingga Rasulullah Saw. bersabda, “Arihna biha, ya Bilal. (Gembirakanlah kami dengan shalat, wahai Bilal.”, bukan, “Arihna minha (Jauhkanlah kami darinya).” Kenapa? Karena beliau bersabda, “Dijadikan penyejuk hatiku ada dalam shalat. Namun aku mendengar tangisan bayi, hingga aku khawatir ibunya akan tergoda dalam shalat. Aku pun meringankan shalatku padahal penyejuk hatiku ada dalam shalat.” Manusia agung ini mengerjakan shalat hingga kakinya bengkak, hingga kaki beliau saling bertumpu satu sama lain karena lelah. Bahkan Allah Swt. berfirman, “Thaha. Kami tidak menurunkan al-Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” )QS 20:1-3). Itu karena beliau mendapati kesenangannya ada dalam shalat. Beliau mendapati dirinya dalam kebersamaan dengan Allah.

Ibnu Atha’ berkata, “Karena Allah mengetahui bahwa engkau mudah jemu, maka Dia membuat bermacam-macam cara taat untukmu. Dan karena Allah mengetahui bahwa engkau pun rakus, maka Dia membatasinya pada waktu-waktu tertentu, agar perhatianmu tertuju pada kesempurnaan shalat, bukan pada adanya shalat, karena tidak semua orang yang shalat dapat menyempurnakannya.” Tidak semua orang yang mengerjakan shalat boleh dikatakan mendirikan shalat, atau mengerjakan shalat dengan sempurna. Mungkin ia hanya menggugurkan kewajiban. Sedangkan pahala shalat, kandungan shalat, buah shalat, faedah shalat yang dia rasakan, fenomena-fenomena ibadah inilah yang harus direnungkan oleh orang-orang yang memiliki nurani. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk dari golongan mereka. Mudahkanlah bagi kami dan kaum muslimin menjalani ketaatan. Jadikanlah al-Quran sebagai penyejuk hati kami dan penghilang kesedihan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

"DIRIKANLAH SOLAT, SEBELUM DIRI SENDIRI DI SOLATKAN"




cleopatraStratanZunea